Di Presentasikan oleh :
Tofan Oktaviyanto
41611120076
Abstrak
Latar Belakang
Lahan gambut mengandung karbon yang sangat besar yang mempengaruhi pola iklim di muka bumi. Oleh karena itu harus dijaga kelestariannya dari berbagai penyebab kerusakan seperti deforestasi/konversi, kebakaran dan drainase yang menyebabkan pemadatan serta subsidensi.
Metodologi
Untuk menduga kandungan cadangan karbon dibawah permukaan lahan gambut terlebih dahulu harus diketahui
volume gambutpada wilayah tertentu dan klarifikasi tingkat kematangannya.
Volume gambut dapat diketahui dengan mengalikan ketebalan lapisan gambut dengan luasan wilayah lahan gambutnya. Ketebalan gambut diukur pada beberapa titik/lokasi berbeda
(agar datanya mewakili) dengan cara menusukkan tongkat kayu atau bor tanah kedalam lapisan gambut hingga mencapai / mengenai lapisan tanah mineralnya, sedangkan luasan lahan gambut dapat diketahui dari hasil pengukuran langsung dilapangan atau dari peta dasar /tanah atau citra landsat.
Tingkat
Kematangan / pelapukan gambut dapat diukur langsung dilapangan dengan metode sederhana, sedangkan penentuan bobot isi
(bilk density) dan % C
organic dapat merujuk dan berdasarkan pada hasil analisis beberapa contoh tanah gambut yang
telah dilakukan di beberapa lokasi di
Sumatera.
Masalah
dan
Solusinya
A. Kebakaran
Lahan gambut sangat mudah terbakar karena kandungan bahan organik, sifatnya
yang porous dan sifat konduktivitas vertikalnya yang rendah. Kebakaran yang terjadi pada lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena menjalar di bawah permukaan.
Bara yang nampaknya sudah padam masih dapat merayap dibawah permukaan dan dapat menimbulkan
kebakaran baru ditempat lain. Bara yang terdapat pada lahan gambut biasanya hanya padam apabila turun hujan lebat, oleh sebab itu kebakaran pada lahan gambut harus dicegah, dengan menghindari
penyebab kecil seperti putung rokok. Hal
lain adalah tetap menjaga agar gambut tetap lembab, misalnya dengan tidak membuat saluran drainase dan membendung saluran drainase yang ada.
B. Mencegah Kebakaran Hutan
Meskipun terjadi secara tidak tentu (episodic), kebakaran biomas merupakan penyebab langsung utama emisi GRK. Kebakaran umumnya terjadi akibat kelalaian dari aktivitas manusia, dan dapat merambat menyebabkan kebakaran besar. Kejadian kebakaran juga diasosiasikan dengan tata guna lahan dan pengelolaan lahan, sehingga upaya pengendalian kebakaran harus dihubungkan dengan penyebab utama. Selain memperkuat upaya pemadaman dengan menyediakan peralatan dan organisasi, penting untuk mencegah konversi hutan dan perubahan penggunaan lahan. Selain itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.
C. Drainase
Dampak langsung dari drainase pada lahan gambut adalah oksidasi dan pengeringan gambut yang diikuti dengan pemadatan dan penurunan/subsidensi gambut. Pada lahan gambut yang diusahakan untuk tanaman, sangat penting untuk mengelola muka air (Water table) guna mencegah subsidensi gambut dalam jangka waktu rotasi tanaman misalnya untuk kelapa sawit atau tanaman penghasil kayu pulp. Pada lahan gambut yang terdegradasi, muka air mungkin diiitingkatkan dengan cara memblok / menahan kanal drainase. Dengan demikian manajemen muka air berperan sangat penting dalam mengendalikan emisi dari lahan gambut yang terdegradasi, produksi atau konservasi.
Kesimpulan dan saran
Dalam kaitannya dengan perubahan iklim,, lahan gambut memiliki kandungan karbon
yang besar, sehingga gambut berperan sangat penting sebagai pengaman perubahan iklim global. Jika
lahan gambut terbakar, atau terdegradasi,
akann teremisi berbagai jenis gas rumah
kaca (terutama
CO2, N2O, CH) ke atmosfer
yang siap untuk merubah iklim global.
Dengan luas lahan gambut yang mencapai 21 juta ha dan merupakan negara dengan luas lahan gambut tropika
yang terbesar di Dunia,
Indonesia memiliki peran yang
sangat penting dalam mengatur keseimbangan
iklim global. Kerusakan pada lahan gambut akibat kebakatran
dan deforestasi
akan memicu emisi gas rumah kaca. Upaya mencegah atau menurunkan emisi yang
berasal dari pengelolaan lahan gambut yang lestari seyogyanya mendapat kompensasi yang setimpal dari masyarakat
internasional. Oleh karena itu skema REDD
yang sedang dalam tahap pembahasan diharapkan
mampu menghasilkan
mekanisme bagi peningkatan upaya konservasi lahan gambut dan mengurangi
emisi sekaligus menghasilkan dana karbon yang sangat diperlukan Indonesia untuk mendukung pembangunan
yang berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar