Kamis, 07 Februari 2013

Review Jurnal 2 (word)



Di Presentasikan oleh :

Tofan Oktaviyanto

41611120076

Abstrak

Latar Belakang

Lahan gambut mengandung karbon yang sangat besar yang mempengaruhi pola iklim di muka bumi. Oleh karena itu harus dijaga kelestariannya dari berbagai penyebab kerusakan seperti deforestasi/konversi, kebakaran dan drainase yang menyebabkan pemadatan serta subsidensi.

Metodologi

Untuk menduga kandungan cadangan karbon dibawah permukaan lahan gambut terlebih dahulu harus diketahui volume gambutpada wilayah tertentu dan klarifikasi tingkat kematangannya. Volume gambut dapat diketahui dengan mengalikan ketebalan lapisan gambut dengan luasan wilayah lahan gambutnya. Ketebalan gambut diukur pada beberapa titik/lokasi berbeda (agar datanya mewakili) dengan cara menusukkan  tongkat kayu atau bor tanah kedalam lapisan gambut hingga mencapai / mengenai lapisan tanah mineralnya, sedangkan luasan lahan gambut dapat diketahui dari hasil pengukuran langsung dilapangan atau dari peta dasar /tanah atau citra landsat. Tingkat Kematangan / pelapukan gambut dapat diukur langsung dilapangan dengan metode sederhana, sedangkan penentuan bobot isi (bilk density) dan % C organic dapat merujuk dan berdasarkan pada hasil analisis beberapa contoh tanah gambut yang telah dilakukan di beberapa lokasi di Sumatera.

Masalah dan Solusinya

A. Kebakaran

 Lahan gambut sangat mudah terbakar karena kandungan bahan organik, sifatnya yang porous dan sifat konduktivitas vertikalnya yang rendah. Kebakaran yang terjadi pada lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena menjalar di bawah permukaan. Bara yang nampaknya sudah padam masih dapat merayap dibawah permukaan dan dapat menimbulkan kebakaran baru ditempat lain. Bara yang terdapat pada lahan gambut biasanya hanya padam apabila turun hujan lebat, oleh sebab itu kebakaran pada lahan gambut harus dicegah, dengan menghindari penyebab kecil seperti putung rokok. Hal lain adalah tetap menjaga agar gambut tetap lembab, misalnya dengan tidak membuat saluran drainase dan membendung saluran drainase yang ada.

B.  Mencegah Kebakaran Hutan

    Meskipun terjadi secara tidak tentu (episodic), kebakaran biomas merupakan penyebab langsung utama emisi GRK. Kebakaran umumnya terjadi akibat kelalaian dari aktivitas manusia, dan dapat merambat menyebabkan kebakaran besar. Kejadian kebakaran juga diasosiasikan dengan tata guna lahan dan pengelolaan lahan, sehingga upaya pengendalian kebakaran harus dihubungkan dengan penyebab utama. Selain memperkuat upaya pemadaman dengan menyediakan peralatan dan organisasi, penting untuk mencegah konversi hutan dan perubahan penggunaan lahan. Selain itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran.



C.  Drainase

    Dampak langsung dari drainase pada lahan gambut adalah oksidasi dan pengeringan gambut yang diikuti dengan pemadatan dan penurunan/subsidensi gambut. Pada lahan gambut yang diusahakan untuk tanaman, sangat penting untuk mengelola muka air (Water table) guna mencegah subsidensi gambut dalam jangka waktu rotasi tanaman misalnya untuk kelapa sawit atau tanaman penghasil kayu pulp. Pada lahan gambut yang terdegradasi, muka air mungkin diiitingkatkan dengan cara memblok / menahan kanal drainase. Dengan demikian manajemen muka air berperan sangat penting dalam mengendalikan emisi dari lahan gambut yang terdegradasi, produksi atau konservasi.

Kesimpulan dan saran

         Dalam kaitannya dengan perubahan iklim,, lahan gambut memiliki kandungan karbon yang besar, sehingga gambut berperan sangat penting sebagai pengaman perubahan iklim global. Jika lahan gambut terbakar, atau terdegradasi, akann teremisi berbagai jenis gas rumah kaca (terutama CO2, N2O, CH) ke atmosfer yang siap untuk merubah iklim global.

  Dengan luas lahan gambut yang mencapai 21 juta ha dan merupakan negara dengan luas lahan gambut tropika yang terbesar di Dunia, Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam mengatur keseimbangan iklim global. Kerusakan pada lahan gambut akibat kebakatran dan deforestasi akan memicu emisi gas rumah kaca. Upaya mencegah atau menurunkan emisi yang berasal dari pengelolaan lahan gambut yang lestari seyogyanya mendapat kompensasi yang setimpal dari masyarakat internasional. Oleh karena itu skema REDD yang sedang dalam tahap pembahasan diharapkan mampu menghasilkan mekanisme bagi peningkatan upaya konservasi lahan gambut dan mengurangi emisi sekaligus menghasilkan dana karbon  yang sangat diperlukan Indonesia untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar